Bergaul dengan Para Senior

16 Mar 2008

Usiaku masih 30-an tahun. Tapi, gara-gara statusku di perusahaanku, aku terbiasa bergaul dengan banyak orang yang lebih senior. Hal ini sudah saya jalani sejak beberapa tahun lalu. Kadang-kadang, akhirnya saya juga dianggap anak atau adik oleh mereka. Ada juga yang memanggilku si ragil.

Saya sering mewakili pemimpin redaksiku, Budiono Darsono, dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri para pemimpin redaksi. Ini jelas tantangan buat saya. Saya harus beradaptasi dengan mereka. Kadang mereka bicara serius, tapi kadang-kadang sering guyon.

Pengalaman paling mengesankan saat saya mengikuti kunjungan ke Malaysia yang diikuti para pemimpin redaksi media massa Indonesia. Ada Pimpinan Umum LKBN Antara Asro Kamal Rokan (sekarang sudah mantan), Pemimpin Redaksi Gatra Budiono Kartohadiprojo, Pemimpin Redaksi Toriq Hadad, Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Harapan Syarifuddin, dan ada juga redaktur Kompas Nugroho Yudho.

Mereka adalah orang-orang yang friendly. Toriq Hadad, yang masih jelas keturunan Arabnya, ternyata suka bercanda. Kebetulan, saya satu bangku dengan Toriq di bangku kelas bisnis Malaysia Airlines Jakarta-Kuala Lumpur dan sebaliknya. Cerita-cerita yang ia sampaikan benar-benar renyah. Sorry Pak Toriq, kalau saya sedikit buka di sini.

Pak Asro, demikian halnya. Jurnalis yang mantan pemimpin redaksi Republika ini ternyata jago ha ha ha. Banyak orang yang dibuat tersenyum olehnya. Jago pantun. Lagu-lagu Melayu yang dinyanyikan para pendendang Malaysia, Pak Asro hafal di luar kepala. Di depan PM Malaysia Abdullah Badawi, Pak Asro terlihat lancar berbahasa Malaysia. Top Pak Cik!

Budiono Kartohadiprodjo, he he juga sama. Lulusan ITB ini pernah memimpin upaya ‘mengerjai’ Syarifuddin gara-gara gadis Malaysia. Saya yang paling ragil, jadi aktornya. Siap komandan! Saya tentu tidak bisa menulis secara jelas bagaimana sandiwara yang dilakukan di hotel Nikko Kuala Lumpur. Syarifuddin yang kocak ini tampaknya memang terkecoh saat itu. Tapi teman-teman yang lain tertawa.

Sorry Pak Syarifuddin, saya baru buka di sini. Maaf, dan maaf. Kalau tidak berkenan, silakan untuk memprotes Pak Budiono Kartohadiprojo nanti.. he he. Dialah yang menjadi sutradara. Kenang-kenangan Pak Budiono untuk saya adalah kopiah Malaysia yang dibeli di pasar Terengganu.

Nugroho dari Kompas, terkesan agak serius. Tapi, orangnya friendly. Selain bersama dalam kunjungan ke Kuala Lumpur dan Terengganu, saya juga pernah bersama Nugroho saat mengikuti lawatan Presiden SBY ke China. Saat di China, Nugroho pernah saya kasih tahu bahwa tulisan yang ia tulis untuk Kompas, salah data. Dia pun terkejut…Rupanya Nugroho salah hitung. Uppss!

Selain di pergaulan pekerjaan, saya juga sering bergaul dengan orang-orang senior di sebuah masjid di perumahanku. Luar biasa! Mereka masih memiliki semangat 45 untuk beraktivitas. Semua ada hikmahnya.senior1.jpg


TAGS


-