A2C= Ayat Ayat Poligami yang Menyihir

20 Mar 2008

Mungkin sudah berjuta-juta komentar yang muncul merespons film Ayat-Ayat Cinta (A2C). Tak laki-laki-perempuan, tak muda dan tua. Selama berhari-hari, bioskop 21 di mana-mana, kota besar maupun kota kecil, selalu dijejali penonton A2C. Mengapa orang-orang seakan tersihir dengan A2C? a2c.jpg

Rasa penasaran terhadap sikap orang-orang yang menonton A2C inilah yang mengantarkan saya untuk akhirnya juga terjun ke 21. Bukan karena penasaran terhadap filmnya.. (saya bukan pengagum film, apalagi film roman. Saya lebih suka menonton film action, detektif…), tapi karena ingin melihat penasaran-penasaran banyak orang.

Saya dua kali menonton A2C. Pertama kali, menonton gratisan di Bioskop 21 Plaza Senayan bersama Ketua MPR Hidayat Nurwahid (yang masih menduda) dan jajaran politisi PKS. Di studio yang sama, juga ada acara nonton bareng yang digagas teman-teman Pemuda Muhammadiyah. Jadi, bagi saya, acara nonton bareng itu juga sekaligus sebagai forum politik. Sebab, saat itu ada juga Wakil Ketua MPR yang juga politisi PAN, AM Fatwa. Ada Ketua Umum Partai Matahari Bangsa Imam Addaruquhtni bersama Sekjennya, A Rofiq. Hadir juga Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimin dan jajarannya.

Acara nonton A2C yang juga menjadi forum politik ini juga yang semakin menambah penasaran saya. Ternyata film A2C ini tidak hanya menyihir orang-orang awam, tapi juga politisi dan orang-orang pergerakan. Kala itu, studio juga memang tampak penuh.

Kedua, saya menonton bersama istri dan anak saya di Biskop 21 Ekalokasari Plaza, Bogor beberapa hari sesudahnya. Woiii… ternyata orang-orang Bogor juga sama. Tersihir. Ruangan studio 1 tampak penuh. Sebelum film dimulai, antrean tiket tampak memanjang.

Mengapa orang tersihir? Bagi saya, setidaknya ada empat hal:

1. Film ini bertemakan roman yang relijius. Barangkali saat ini banyak orang yang jenuh dengan film-film Indonesia yang semakin mistis dan roman yang kebarat-kebaratan. Film yang didasarkan pada Novel A2C yang ditulis Habiburrahman El Shirazy (lulusan Universitas Kairo Mesir) ini mengingatkan akan karya-karya sastra roman yang zaman dulu, seperti Di Bawah Lindungan Kabah karya HAMKA. Film A2C bagaikan menjadi telaga bagi orang-orang yang penuh kehausan.

2. Film ini menyinggung soal poligami, suatu tindakan yang semakin menjamur dan terkesan menjadi aib saat ini. Kini, poligami banyak dipercontohkan oleh para kiai, politisi, pejabat, dan tokoh masyarakat. Di sisi lain, tak ada teladan yang sukses dalam berpoligami (Saya teringat dengan kasus poligami seorang ustad ternama di Bandung). Sehingga film ini seakan-akan menjadi contoh poligami yang sukses, poligami tanpa didahului perselingkuhan dan kebohongan. Ini poligami yang dilakukan karena keterpaksaan. Sesuatu yang harus dilakukan, karena menjadi satu-satunya jalan. Tak ada yang lain. Poligami yang dimintakan oleh istri pertama, bukan kehendak sang suami. Akhirnya cara berpoligami ini dipahami dan dimaklumi masyarakat.

3. Konflik yang dibangun dalam film ini cukup kuat, terkait kasus orang Indonesia yang mendapat fitnah di negeri orang. Jadi, ini ada unsur kedekatan dengan penonton. Penonton seakan diprovokasi oleh kisah orang Indonesia di negeri Mesir. Kasusnya sangat bahaya, karena diancam hukuman mati, gara-gara difitnah memerkosa orang. Diawali hidup enak, orang Indonesia ini akhirnya hidup di penjara, terpaksa mengawini gadis lain, dan akhirnya istri keduanya meninggal saat salat bersama. Mantan Presiden BJ Habibie saja sampai menangis menontonnya.

Entah bagi Habibie, bagian mana potongan film yang paling mengharukan. Namun, bagi saya, kisah yang paling mengharukan adalah saat Aisha menangis tersedu-sedu setelah Fahri menikahi Maria. Suatu keikhlasan dari perempuan yang hebat: dia menyelamatkan suaminya, menyelamatkan Maria, sekaligus menyelamatkan anak yang dikandungnya.

4. Publikasi media (termasuk tulisan-tulisan di blog) cukup bejibun. Barangkali ini yang menambah panjang masa penyihiran A2C dan menambah jumlah orang yang tersihir. Bahkan, sejumlah tokoh agama berpromosi bahwa film A2C ini layak ditonton. Akhirnya film ini bukan menjadi film 17 tahun ke atas, tapi film keluarga. Lihat saja, banyak anak-anak kecil yang dibawa ayah-ibunya ke bioskop. Anak-anak ini bahkan hafal betul lirik lagu ‘Ayat Ayat Cinta yang dinyanyikan Rossa dan Jalan Cinta yang dinyanyikan Sherina.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post