I Have Never Smoked (Ma Adkhontu Abadan)

25 Apr 2008

Sejak umur 12 tahun, saya sudah hidup di lingkungan yang tidak menoleransi rokok. Bisa dikatakan, rokok di lingkungan baru saya ini adalah haram. Di kampus dan kompleks yang saya diami ini, benar-benar bebas rokok. Siapa yang berani merokok, maka hukumannya adalah rambut melayang, kepala harus gundul. Malu!

Sungguh pendidikan yang sangat-sangat berharga. Selain sudah dijauhkan dari rokok yang mematikan nyawa dan melenyapkan harta itu, saya juga mendapat pendidikan untuk beraksi menyelamatkan lingkungan. Lingkungan yang saya tempati jadi bersih, tak ada asap rokok, tak ada puntung rokok. Di dalam kompleks, rokok pun tak dijual.

Wajar, bila kemudian ketika saya beranjak dewasa, menjadikan rokok sebagai musuh besar. Syaithon kabir, begitu orang Arab menyebutnya. Dan hingga saya berusia 34 tahun saat ini, saya belum pernah merekok satu kali pun. I have never smoked. Ma adkhontu abadan. Hingga sekarang, rokok bagi saya adalah haram. (maaf banget buat teman-teman yang perokok).

Merokok bagi saya adalah candu yang merusak. Karena itu harus dijauhi. Di dalam bungkus rokok maupun iklan-iklannya, sudah jelas tertulis ‘rokok mengganggu kesehatan, bla bla bla’. Tapi, memang aneh. Orang yang sudah menjadikan rokok sebagai ‘Tuhan-nya’, seakan tak melihat peringatan itu. Dia tetap melahap racun itu dalam-dalam.

Saya bersyukur hingga kini masih terjauhi dengan rokok itu. Ketika berada di antara perokok, saya bangga bukan sebagai perokok. Saya selalu ditawari rokok, saya selalu jawab, “Maaf saya tidak merokok.”

Suatu saat pernah di suatu pertemuan, salah seorang teman saya menawarkan rokok lagi. Kasus-kasus ini sering ditemui, karena penawaran rokok ini dianggap sebagai suatu aksi sosial: saling memberi, saling berbagi. Dan ini terjadi di mana-mana. Padahal, menawarkan rokok sama saja artinya dengan menawarkan racun. Dan itu sangat membahayakan! (he he).

Nah, teman ini karena sudah menjadikan doktrin penawaran rokok menjadi kebiasaan hidupnya, akhirnya tetap menawari rokok, tapi mengubah kalimatnya. Dia tahu saya tidak merokok, karena dulu pernah menawari, dan saya bilang saya tidak merokok. “Kamu tidak pernah merokok sama sekali kan?” tanya dia. Saya jawab, “Ya.” “Wah bagus, sudah saya duga,” kata dia lagi. Saya tersenyum.

Teman saya itu menggabungkan kebiasaan menawarkan rokok dengan memuji orang yang tidak merokok. Ini artinya, dia sebenarnya paham bahwa orang tidak merokok lebih baik daripada orang yang merokok. Tapi, karena rokok sudah menjadi candu, sudah menjadi ‘Tuhan’, maka dia meninggalkan hati nuraninya, dan tetap merokok.

Saya sudah bertekad hingga masa hidup saya habis, saya tidak merokok. Bagi orang-orang yang sudah sadar mengenai bahaya rokok, bisa jadi dia memiliki pemahaman yang lebih ekstrem lagi: haram pangkat dua. Seperti bos saya itu. Dia dulu perokok berat. Namun, saat ini melarang pegawainya merokok di dalam kantor.

Saya sepakat 100 persen. Selain tidak menyehatkan, asap rokok membuat pakaian kita berbau tidak sedap. Parfum wangi yang disemprotkan ke baju kita saat berangkat berubah menjadi parfum rokok ketika pulang.

Saya sepakat dengan keputusan-keputusan yang membuat space kaum perokok semakin kecil dan semakin kecil. Suatu saat, saya berharap, demi penyelamatan Bumi, demi kesehatan, dan demi kesejahteraan hidup, rokok benar-benar dilenyapkan dari Bumi ini. Mantap surantap!


TAGS


-

Author

Search

Recent Post