I Have Never Smoked (Ma Adkhontu Abadan)

Sejak umur 12 tahun, saya sudah hidup di lingkungan yang tidak menoleransi rokok. Bisa dikatakan, rokok di lingkungan baru saya ini adalah haram. Di kampus dan kompleks yang saya diami ini, benar-benar bebas rokok. Siapa yang berani merokok, maka hukumannya adalah rambut melayang, kepala harus gundul. Malu!

Sungguh pendidikan yang sangat-sangat berharga. Selain sudah dijauhkan dari rokok yang mematikan nyawa dan melenyapkan harta itu, saya juga mendapat pendidikan untuk beraksi menyelamatkan lingkungan. Lingkungan yang saya tempati jadi bersih, tak ada asap rokok, tak ada puntung rokok. Di dalam kompleks, rokok pun tak dijual.

Wajar, bila kemudian ketika saya beranjak dewasa, menjadikan rokok sebagai musuh besar. Syaithon kabir, begitu orang Arab menyebutnya. Dan hingga saya berusia 34 tahun saat ini, saya belum pernah merekok satu kali pun. I have never smoked. Ma adkhontu abadan. Hingga sekarang, rokok bagi saya adalah haram. (maaf banget buat teman-teman yang perokok).

Merokok bagi saya adalah candu yang merusak. Karena itu harus dijauhi. Di dalam bungkus rokok maupun iklan-iklannya, sudah jelas tertulis ‘rokok mengganggu kesehatan, bla bla bla’. Tapi, memang aneh. Orang yang sudah menjadikan rokok sebagai ‘Tuhan-nya’, seakan tak melihat peringatan itu. Dia tetap melahap racun itu dalam-dalam.

Saya bersyukur hingga kini masih terjauhi dengan rokok itu. Ketika berada di antara perokok, saya bangga bukan sebagai perokok. Saya selalu ditawari rokok, saya selalu jawab, “Maaf saya tidak merokok.”

Suatu saat pernah di suatu pertemuan, salah seorang teman saya menawarkan rokok lagi. Kasus-kasus ini sering ditemui, karena penawaran rokok ini dianggap sebagai suatu aksi sosial: saling memberi, saling berbagi. Dan ini terjadi di mana-mana. Padahal, menawarkan rokok sama saja artinya dengan menawarkan racun. Dan itu sangat membahayakan! (he he).

Nah, teman ini karena sudah menjadikan doktrin penawaran rokok menjadi kebiasaan hidupnya, akhirnya tetap menawari rokok, tapi mengubah kalimatnya. Dia tahu saya tidak merokok, karena dulu pernah menawari, dan saya bilang saya tidak merokok. “Kamu tidak pernah merokok sama sekali kan?” tanya dia. Saya jawab, “Ya.” “Wah bagus, sudah saya duga,” kata dia lagi. Saya tersenyum.

Teman saya itu menggabungkan kebiasaan menawarkan rokok dengan memuji orang yang tidak merokok. Ini artinya, dia sebenarnya paham bahwa orang tidak merokok lebih baik daripada orang yang merokok. Tapi, karena rokok sudah menjadi candu, sudah menjadi ‘Tuhan’, maka dia meninggalkan hati nuraninya, dan tetap merokok.

Saya sudah bertekad hingga masa hidup saya habis, saya tidak merokok. Bagi orang-orang yang sudah sadar mengenai bahaya rokok, bisa jadi dia memiliki pemahaman yang lebih ekstrem lagi: haram pangkat dua. Seperti bos saya itu. Dia dulu perokok berat. Namun, saat ini melarang pegawainya merokok di dalam kantor.

Saya sepakat 100 persen. Selain tidak menyehatkan, asap rokok membuat pakaian kita berbau tidak sedap. Parfum wangi yang disemprotkan ke baju kita saat berangkat berubah menjadi parfum rokok ketika pulang.

Saya sepakat dengan keputusan-keputusan yang membuat space kaum perokok semakin kecil dan semakin kecil. Suatu saat, saya berharap, demi penyelamatan Bumi, demi kesehatan, dan demi kesejahteraan hidup, rokok benar-benar dilenyapkan dari Bumi ini. Mantap surantap!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

11 Responses to “I Have Never Smoked (Ma Adkhontu Abadan)”

  1. Ghatel Says:

    saya sudah tidak merokok mas :D

  2. fayathinkbig Says:

    ikut gabung mas, pria-pria bebas rokok hehehe…

  3. fayathinkbig Says:

    ikut barisan, mas. pria-pria bebas rokok hehehehe..

  4. iwul Says:

    sepakat pak asy..rokok itu benar-benar sumber penyakit. Walau cuman satu batang tapi bisa memperpendek usia

  5. siapakah.akyu Says:

    Andaikata ada kesempatan untuk bisa menjadi pemimpin di negara ini ato lingkup kecil sekalipun .. sy berusaha mencari solusi produksi pengganti rokok yang lebih berguna bagi kesehatan ..

    itulah fungsi jabatan untuk membrantas kedzaliman .. lalu bagaimana dengan pemimpin kita .. ?? Don’t ask why ??

  6. orangdalam Says:

    aku juga member sebuah milis anti merokok, meski gak aktif. dan aku sangat berbahagia karena kebijakan redaksi di detikcom adalah anti rokok. BRAVO!!!!

  7. Koors Says:

    Saya sih maunya ga merokok…
    tapi susyeeeeeeeeeeee…
    gimana dong?
    cara2 untuk ngurangin rokok udah saya tempuh..
    dari ge beli rokok (yang ada minta mulu)
    trus ngurangin rokok temen…
    hihihihi
    tapi emang susah kalo dah terjerumus nih
    jangan dikira para perokok ga tau bahaya merokok…
    justru kita udah pernah ngalamin efeknya..
    tapi…
    ya itu..
    SUSAH BANGET

  8. kevin Says:

    yup bnar baget
    pokoe katakan tiadak bwat rokok
    moga2 aje suatu hari nanti
    indonesia tercinta ini bisa bebas dari rokok
    kayak negara tentangga kita ntu lo…..
    susah sich tp klu ada niat pasti ada jalan
    bnar kagak……

  9. Yusri W. Adi Says:

    Yen konangan ngrokok digebuki karo Qismul Amn (Mas Chilmi, mas Huda, Baraas Eba karo mas Alan Nuari) plus wedi disidang pak Mulyono he he he

  10. Yusri W. Adi Says:

    SETUJA EH SETUJU !!!!! MAS ARIFIN - SAY NO TO SMOKE

  11. dillahshetia Says:

    setuju,
    jauh kan rokok,krna rokok sangat menbahayakan,

Leave a Reply