Jurnalisme Orang Biasa

7 Aug 2008

Suatu saat saya ditanya sejumlah orang dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah pejabat penting. Jurnalisme apa yang dikembangkan detikcom di era yang serba digital ini? Saya jarang mendapatkan pertanyaan itu. Semestinya orang-orang ini sudah tahu apa jurnalisme yang dianut detikcom, karena mereka juga membaca detikcom setiap hari. Karena barangkali ingin mendapat keterangan dari orang detik atau barangkali karena memang hanya basa-basi, akhirnya pertanyaan itu dilontarkan.

Saya teringat diskusi dengan pemred detikcom Budiono Darsono mengenai hal-hal biasa saja beberapa waktu lalu. Dalam suatu diskusi yang ngalor ngidul itu tercetus istilah ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Karena itulah, kepada orang-orang itu saya katakan bahwa jurnalisme yang dianut dan dikembangkan detikcom adalah ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Suatu istilah yang sangat enak didengar, kesannya tidak angkuh, sangat merakyat. Pas!

Mereka mengangguk-angguk, walau saya tidak perlu menjelaskan apa definisi ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Bisa jadi, mereka bisa merasakan sendiri makna istilah itu, atau memang menebak-nebak, atau bahkan tidak mengerti apa yang saya maksud. Tidak ada pertanyaan lanjutan setelah saya menjawab sesingkat itu. Tokcer! Pembahasan berganti dengan topik lain.

Orang biasa: bukan hanya orang pejabat, bukan hanya orang konglomerat, bukan hanya orang pengusaha, bukan hanya orang suku dan agama tertentu. Kategori ini pas untuk semua orang lintas negara, lintas agama, lintas apa pun. Karena itu detikcom juga memberitakan hal-hal yang memang ingin diketahui oleh masyarakat biasa, masyarakat luas. Termasuk masyarakat terkini: masyarakat digital, yang selalu ingin cepat dan cepat dalam mendapatkan informasi.

Saya tidak mau terbelenggu dengan pengkotak-pengkotakan istilah ‘jurnalisme’ yang saat ini banyak dirancang oleh sebagian orang. Ada ‘jurnalisme A, ada jurnalisme B, ada jurnalisme C’. Karena ternyata, pengkotak-kotakan istilah ‘jurnalisme’ itu membuat sempit, meski pada akhirnya akan kembali juga pada ‘Jurnalisme Orang Biasa.’

Beberapa waktu lalu, ada media baru yang mencibir detikcom dengan gaya berita ‘breaking news’-nya yang tetap dipertahankan sejak 1998 lalu. Orang ini ingin membangun ‘jurnalisme orang berkelas’, dengan menggaji wartawannya dengan bayaran besar. Namun ternyata ‘jurnalisme orang berkelas’ yang dia kembangkan itu hanya bertahan beberapa saat. Setelah itu dia pun menyaru gaya berita detikcom, meski tidak seutuhnya.

“Lho kok sekarang berubah?” tanya saya. “Lha gimana lagi, wong nyatanya media online itu ya harus seperti detikcom, lebih dinamis . Saya ikutlah bos,” tutur dia. Bukan menyombongkan diri, tapi memang begitulah adanya. Dan gaya ‘Jurnalisme Orang Biasa’ itu memang ternyata lebih luas dan bisa diterima, meski ada kalanya ada sebagian orang ‘tersengat’, termasuk kalangan konglomerat dan pejabat. detikbarucov.jpgdetikbaru.jpg


TAGS jurnalisme


-

Author

Search

Recent Post