Jurnalisme Orang Biasa
Suatu saat saya ditanya sejumlah orang dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah pejabat penting. Jurnalisme apa yang dikembangkan detikcom di era yang serba digital ini? Saya jarang mendapatkan pertanyaan itu. Semestinya orang-orang ini sudah tahu apa jurnalisme yang dianut detikcom, karena mereka juga membaca detikcom setiap hari. Karena barangkali ingin mendapat keterangan dari orang detik atau barangkali karena memang hanya basa-basi, akhirnya pertanyaan itu dilontarkan.
Saya teringat diskusi dengan pemred detikcom Budiono Darsono mengenai hal-hal biasa saja beberapa waktu lalu. Dalam suatu diskusi yang ngalor ngidul itu tercetus istilah ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Karena itulah, kepada orang-orang itu saya katakan bahwa jurnalisme yang dianut dan dikembangkan detikcom adalah ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Suatu istilah yang sangat enak didengar, kesannya tidak angkuh, sangat merakyat. Pas!
Mereka mengangguk-angguk, walau saya tidak perlu menjelaskan apa definisi ‘Jurnalisme Orang Biasa’. Bisa jadi, mereka bisa merasakan sendiri makna istilah itu, atau memang menebak-nebak, atau bahkan tidak mengerti apa yang saya maksud. Tidak ada pertanyaan lanjutan setelah saya menjawab sesingkat itu. Tokcer! Pembahasan berganti dengan topik lain.
Orang biasa: bukan hanya orang pejabat, bukan hanya orang konglomerat, bukan hanya orang pengusaha, bukan hanya orang suku dan agama tertentu. Kategori ini pas untuk semua orang lintas negara, lintas agama, lintas apa pun. Karena itu detikcom juga memberitakan hal-hal yang memang ingin diketahui oleh masyarakat biasa, masyarakat luas. Termasuk masyarakat terkini: masyarakat digital, yang selalu ingin cepat dan cepat dalam mendapatkan informasi.
Saya tidak mau terbelenggu dengan pengkotak-pengkotakan istilah ‘jurnalisme’ yang saat ini banyak dirancang oleh sebagian orang. Ada ‘jurnalisme A, ada jurnalisme B, ada jurnalisme C’. Karena ternyata, pengkotak-kotakan istilah ‘jurnalisme’ itu membuat sempit, meski pada akhirnya akan kembali juga pada ‘Jurnalisme Orang Biasa.’
Beberapa waktu lalu, ada media baru yang mencibir detikcom dengan gaya berita ‘breaking news’-nya yang tetap dipertahankan sejak 1998 lalu. Orang ini ingin membangun ‘jurnalisme orang berkelas’, dengan menggaji wartawannya dengan bayaran besar. Namun ternyata ‘jurnalisme orang berkelas’ yang dia kembangkan itu hanya bertahan beberapa saat. Setelah itu dia pun menyaru gaya berita detikcom, meski tidak seutuhnya.
“Lho kok sekarang berubah?” tanya saya. “Lha gimana lagi, wong nyatanya media online itu ya harus seperti detikcom, lebih dinamis . Saya ikutlah bos,” tutur dia. Bukan menyombongkan diri, tapi memang begitulah adanya. Dan gaya ‘Jurnalisme Orang Biasa’ itu memang ternyata lebih luas dan bisa diterima, meski ada kalanya ada sebagian orang ‘tersengat’, termasuk kalangan konglomerat dan pejabat. ![]()

Tags: jurnalisme
August 7th, 2008 at 10:55
kalo gitu, jika ada yang nanya Management HRD apa yang di pake di detikcom. saya akan jawab Management HRD Orang Biasa….. halah.
August 7th, 2008 at 12:46
hmm..
semoga detik bisa bertahan dalam dunia jurnalisme..
numpang info..:
mau ikutan kopdar detik ngga..???
http://blogdetik.com/2008/08/07/pendaftaran-gathering-komunitas-detikcom
August 8th, 2008 at 10:39
cocok..mas, karena informasi dibutuhkan oleh semua kalangan, jangan di kotak-kotakan sepeti itu. Mentang-mentang….
August 9th, 2008 at 00:32
luar biasa mas aasydad.. singkat tp padat.
August 16th, 2008 at 11:48
Jadi inget dulu zaman kulaih. Dalam pertemuan antar mahasiwa seIndonesia, masing-masing memperkenalkan diri dengan bangga: saya mahasasiswa UGM, saya dari UI, saya Mahasiswa teladan, Saya mahasiswa pemanang lomba ini dan itu.
giliran saya mengenalkan diri, saya berucap singkat: saya mahasiswa biasa-biasa saja!
November 9th, 2008 at 19:51
Konsistensimu perlu diacungkan 2 jempol.
Jadi ingat saat tahun 1999 beberapa teman yang masuk ke detikcom dan saya memilih sendiri, memilih jadi pertapa dan mempertanyakan jalan hidup menjadi jurnalis, benarkah untuk saya secara pribadi, meski menjadi jurnalis itu profesi yang tak mengenal kata bosan karena tiap hari bertemu sesuatu yang baru, tidak melulu itu-itu saja seperti orang kantoran.
Tahun-tahun berlalu dan kini kita semua punya ceritanya sendiri-sendiri. Cukup bangga aku melihatmu sekarang, ditambah saat foto pernikahanku ada sosokmu dan di situ bisa kubilang bahwa ini Asydhad, temanku dulu…
Tetap menjadi orang biasa kawan, sebagaimana tulisanmu ini yang bertajuk “Jurnalisme Orang Biasa”.
Seorang teman lama
March 4th, 2009 at 20:02
kadang jurnalisme orang biasa malah berkesan luar biasa
eh, jurnalisme saya gitu gak ya?
March 18th, 2009 at 15:18
jurnalisme orang biasa……………pas sekali, enak diucap dan langsung paham.
klau gtu, pemrednya juga biasa, wapemrednya biasa saja. wartawannya terbiasa…………………., hehehehehe………smoga detikcom menjadi biasa………….
November 13th, 2010 at 08:45
waah aku juga wong biasa.
wong ndesa
saat ini orang kot pun dengan gaya hidupnya kembali ke gaya wong ndesa..
Istilah kerennya mereka bikin style bac to nature
Suka ijo-ijoan
kalau makan lesehan
kalo tidur karpetan
di hotel-hotel berbintang banyak makanannya sekarang pecel, klepon
ya begitulah semua akan memilih yang menjadi akar rumputnya
December 1st, 2010 at 13:53
hai salam kenal yaa
December 14th, 2010 at 09:19
nice post…
visit me ya….
repository farmasi unand
July 30th, 2011 at 04:09
Very enjoyed this! Well done!
August 4th, 2011 at 07:30
Its very important
August 5th, 2011 at 07:10
Really enjoyed this! Well done!
August 26th, 2011 at 09:59
Sebagai ‘orang biasa’ saya lebih suka yang model ‘orang biasa’ juga.
Salut.
October 31st, 2011 at 00:09
nice info Gan