H.A.J.I

1 Nov 2011

saya bersama sahabat di Arafah pada 2006 lalu

saya bersama sahabat di Arafah pada 2006 lalu

Tema kali ini cocok untuk mengawali semangat baru. Semangat untuk menulis lagi di blog, setelah sekian lama vakum. Alasannya sederhana: kurang cukup waktu! Klasik memang. Tapi itu fakta. Lah mengapa kok sekarang sempat menulis? Sekarang punya waktu luang? Kalau boleh jujur, ini sedikit memaksakan diri, memaksakan sebuah semangat. Kebetulan saat ini adalah bulan Dzulhijjah, bulan istimewa karena di bulan ini ibadah haji dilakukan jutaan orang di Tanah Suci Mekkah.

Bagi saya, haji adalah semangat. Semangat untuk berkurban sebagaimana semangatnya Ibrahim menjalankan perintah Yang Maha Kuasa untuk menyembelih putranya, Ismail. Bila tak ada semangat, maka akan mustahil orang-orang muslim di seantero dunia akan menabung dan kemudian berbondong-bondong ke Tanah Suci untuk beribadah haji.

Lima tahun lalu, saya merasakan begitu semangatnya ketika saya diberi kesempatan untuk menjalankan rukun Islam kelima ini. Saya begitu semangat karena ternyata sesuatu yang sebelumnya saya pikir mustahil, itu menjadi nyata. Semangat begitu tiba di Masjidil Haram, semangat tawaf mengelilingi Ka’bah, semangat melakukan sai dari bukit Safa ke bukit Marwa, semangat wukuf di Arafah, semangat mabit di Muzdalifah, semangat berkemah di Mina, semangat melempar jumrah, dan seterusnya.

Semangat itu terus terpatri hingga kini. Bahkan semakin semangat ketika tahun lalu kedua orangtua saya juga berkesempatan melakukan ibadah ini, dan tahun ini kakak saya. Semangat itu makin menyala, karena tahun ini dua sahabat saya di kantor: Nurul Hidayati dan Andi Sururi, juga menjalankan hal yang sama. Selamat dan semangat!

Haji memiliki makna luas. Pendiri detikcom Budiono Darsono memaknai haji sebagai ibadah fisik dan wisata. Itu juga benar. Karena memang haji melakukan rukun-rukun yang memerlukan energi yang cukup besar. Salah satu syarat haji adalah mampu secara fisik. Ibadah wisata juga benar, karena para jamaah berdatangan ke Makkah dengan suasana gembira, menumpang pesawat atau transportasi bersama-sama, kemah bersama-sama, jalan bersama-sama, makan bersama-sama, dan salat pun bersama-sama. Sungguh indahnya!

Yang menggelitik saya adalah pernyataan seorang khotib salat Jumat pekan lalu. “Haji itu panggilan atau undangan?” tanya khotib kepada jamaah dalam khutbahnya. Mungkin, selama ini kita tidak membedakan dua istilah itu. Dia kemudian menjelaskan, “Kalau panggilan, itu biasanya kalau sudah selesai, gak pulang. Tapi kalau undangan, kalau sudah selesai ya pulang.” Karena itu, di Arab Saudi, jamaah haji itu disebut oleh tuan rumah sebagai ‘dhuyufurrahman’, yang artinya adalah tamu-tamu Allah.

Selamat berhaji bagi kaum muslim yang melaksanakan ibadah haji. Semoga menjadi haji mabrur! Selamat Idul Qurban 1432 H bagi kaum muslimin. Semoga semangat kurban di hari Idul Adha menjadi semangat kebersamaan demi Indonesia yang lebih baik.


TAGS haji


-

Author

Search

Recent Post