A.M.E.R.I.K.A

13 Nov 2011

Dari berbagai negara, Amerika Serikat (AS) merupakan negara tersulit untuk memberikan visa. Selain prosedur yang panjang, juga karena penuh ketidakpastian. Disetujui atau tidak permohonan visa seseorang bagaikan menghitung bunyi tokek. Penuh misteri.
cityhall-sf
Saya sudah tiga kali mengajukan visa AS. Pertama, tahun 2008 lalu. Saat itu, visa dimohonkan oleh Sekretariat Negara untuk keperluan mengikuti rombongan Presiden SBY ke Washington, DC untuk menghadiri KTT G-20. Permohonan visa diajukan sangat mepet hanya tiga hari menjelang keberangkatan. Permohonan visa menggunakan paspor biru (paspor dinas).

Waktu yang mepet dan nama saya yang ke-Arab-araban mungkin itu yang membuat saya tidak mendapatkan visa sebelum jadwal keberangkatan. Padahal, banyak pengaju selain saya. Saya baru tahu bahwa visa saya tidak keluar pada saat itu setelah mendarat di bandara Washington, DC. Tidak hanya saya saja, tapi juga beberapa orang lainnya, termasuk ajudan Presiden bernama Kolonel Muhammad Munir. Akhirnya, saya dan beberapa orang yang kurang beruntung itu harus digiring ke Imigrasi.

Di Imigrasi, sejumlah pertanyaan muncul. Mengapa kami harus digiring? Lagi pula, kami dibiarkan lama untuk duduk-duduk saja diminta menunggu. Setelah menunggu 30 menit, kami hanya diminta untuk mengisi data diri yang sebelumnya sudah kami tulis saat mengajukan permohonan visa di Kedubes AS di Jakarta. Setelah itu, kami baru diperbolehkan keluar dari bandara dan menuju hotel. Kejadian pahit ini akhirnya selalu jadi pertanyaan pewawancara untuk permohonan visa selanjutnya, “Mengapa Anda memasuki Amerika tanpa visa?”

Kesempatan kedua saya mengajukan permohonan visa AS terjadi pada tahun 2010 lalu. Sama, saya mengajukan visa dengan paspor biru karena diundang Wakil Presiden Boediono untuk mengikuti konferensi di Washington DC dan New York. Namun, waktu permohonan yang kurang seminggu itu, akhirnya membuat visa saya tidak disetujui sebelum jadwal keberangkatan. Padahal, beberapa teman selain saya disetujui. Karena visa AS saya keluar setelah jadwal keberangkatan, saya batal berangkat ke AS. Beruntung, ada teman yang siap menggantikan karena punya visa AS yang berlaku 5 tahun.

Kesempatan ketiga, saya mengajukan visa pada akhir Oktober 2011. Saya dapat jadwal wawancara 1 November. Dan mengejutkan! Karena saya mendapat visa hanya dua hari setelah jadwal wawancara dilakukan. Saya pun bisa terbang ke San Fransisco pada 6 November 2011. Yang jadi pertanyaan, mengapa permohonan visa pertama dan kedua disetujui dalam waktu lama, padahal rekomendasinya dari Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden, eksekutif tertinggi di pemerintahan?

Ya memang begitulah, tidak ada kepastian. Pengeluaran visa menjadi hak prerogatif konsuler AS. Bahkan, salah seorang pendiri detikcom selalu mendapat visa lebih dari sebulan setelah wawancara. “Tergantung si pewawancaranya juga. Ada pewawancara yang baik, ada juga yang killer. Kemarin ada teman yang tidak disetujui permohonan visanya, karena dia menjawab kurang tegas atas pertanyaan si pewawancara,” kata salah seorang teman.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post